Tradisional Etnik Dengan Sejuta Pernik

patterned glass
PATTERNED GLASS – Desain Interior Mewah
desain furniture multifungsi
Desain Furniture Multifungsi Untuk Interior Apartemen

Tradisional Etnik Dengan Sejuta Pernik

tradisional etnik

 

Bangsa Timur memiliki kebudayaan tinggal bersama seluruh anggota keluarga dari berbagai generasi. Dari nenek-kakek hingga cucu hidup rukun dan harmonis dalam satu atap. Walau budaya tersebut sudah hampir punah di kota-kota besar, namun masih ada yang masih menjaganya hingga sekarang. Dalam kesempatan lipatan di Padang, Bintang Home mengunjungi rumah keluarga Nurhayati Azwar dan Azwar Datuk almarhum suaminya, Rajo Palembang yang masih menjaga adat timur tersebut.

tradisional etnik

Rumah yang terus tumbuh

Seiring bertambahnya jumlah anggota keluarga, program ruang di rumah Nurhayati pun ikut menyesuaikan. Dibangun sejak 1975, rumah ini semula hanya memiliki satu lantai. Terjadi renovasi penambahan lantai dan ruang di rumah ini selama lebih dari 30 tahun. “Kami tambah lantai, jumlah kamarnya jadi ada tujuh,” tutur ibu lima anak ini. Beruntung lahannya terbilang cukup luas 1.000 m2, sehingga segala kebutuhan ruang untuk keluarga besarnya dapat terpenuhi. Kini luas bangunannya menjadi 900 m2 dengan area terbuka yang cukup luas di depan dan di samping bangunan.

Nuansa Etnik di Beranda

Taman luas dengan berbagai tanaman rimbun menjadi area hijau yang asri di bagian depan rumah. Karena berada di lahan hook, akses masuknya dapat dicapai juga melalui arah samping. Beranda di samping rumah menjadi tempat bersantai dan bercengkrama yang teduh. Area beranda ini kental dengan nuansa etnik tradisional. Misalnya pintu masuk dengan ukiran khas Padang Panjang, patung-patung dan pajangan topeng-topeng bernuansa etnik Nusantara.

Pernik-Pernik dari Berbagai Belahan Dunia

Kemeriahan pajangan dan pernak-pernik tidak terhenti sampai di beranda. Begitu masuk ke bagian dalam bangunan, kru Bintang Home dikejutkan dengan koleksi pernak-pernik yang dipajang di setiap sudut hunian ini. Atmosfer galeri seni muncul berkat porsi pernik yang melebihi kapasitas sebuah bangunan hunian dalam menampilkan benda pajangan.
“Dulu lebih banyak lagi dari ini. Karena gempa kemarin, banyak pajangan yang pecah dan tak bisa lagi dipajang,” ujar pengusaha yang hobi travelling  ke berbagai dunia ini.

Hampir semua pernik yang ada di rumahnya berasal dari berbagai belahan dunia. Dari negara-negara di Asia, Australia hingga Eropa. Hobi mengoleksi pernak-pernik ini sudah dimulainya sejak remaja. Hobbinya tidak spesifik satu jenis benda saja, ia secara random menyukai semua jenis pajangan. Dari pajangan piring, asbak, guci, hingga patung-patung kecil. Dari yang diletakkan di atas lantai, di atas meja hingga ditempatkan di lemari kaca dan rak ambalan.

Menghindari Kesan Sempit

Tidak hanya dari pakaian adat, kebudayaan Minang yang mengaplikasikan warna-warna terang juga dapat terlihat dari arsitekturnya. Warna-warna terang dan berani seperti merah dan kuning dapat ditemui di area Ruang Tamu. Tidak terlalu tegas dan kuat, namun cukup menyiratkan karakter Minangnya. Banyaknya pernak-pernik di interior sebuah rumah dapat menghindari perasaan terimidasi  dan terhimpit bagi penghuninya. Namun luasnya area Ruang Tamu dan tingginya langit-langit menyelamatkan interior rumah ini dari kesat tersebut.

Kecermatan Hurhayati dan keluarga juga terlihat dari keputusan mereka untuk tidak menggunakan pembatas fisik di area publik dan semi publik. Hanya split level yang menjadi hirarki dan pembedah fungsi antar ruang. Split level tersebut diterapkan di Ruang Keluarga yang bentuknya memanjang. Banyaknya jumlah anggota keluarga memaksa ruang ini untuk mengakomodir semua kebutuhan mereka. Dua set kursi dihadirkan untuk mewadahi aktivitas bercengkrama mereka di ruang yang hangat ini. Dari ruang keluarga, terdapat sebuah ruang bercengkrama dengan nuansa bar. Meja bar dengan set kursi bambu mempercantik area sudut di ruang tersebut. sementara set meja yang lebih rendah terdapat di tengahnya dengan kursi-kursi kecil yang cantik.